Daftar Blog Saya

Rabu, 01 Mei 2013

tugas sospend : analisis teori dalaam masalah pendidikan di indonesia


BAB I
PENDAHULUAN

A.                 LATAR BELAKANG
Pendidikan Indonesia semakin hari kualitasnya makin rendah. Berdasarkan Survey United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang di Asia Pacific, Indonesia menempati peringkat 10 dari 14 negara. Sedangkan untuk kualitas para guru, kulitasnya berada pada level 14 dari 14 negara berkembang. Padahal guru menduduki posisi tertinggi dalam hal penyampaian informasi dan pengembangan karakter mengingat guru melakukan interaksi langsung dengan peserta didik dalam pembelajaran di ruang kelas. Disinilah kualitas pendidikan terbentuk dimana kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru ditentukan oleh kualitas guru yang bersangkutan.
Salah satu faktor rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah karena lemahnya para guru dalam menggali potensi anak. Para pendidik seringkali memaksakan kehendaknya tanpa pernah memperhatikan kebutuhan, minat dan bakat yang dimiliki siswanya. Kelemahan para pendidik kita, mereka tidak pernah menggali masalah dan potensi para siswa. Pendidikan seharusnya memperhatikan kebutuhan anak bukan malah memaksakan sesuatu yang membuat anak kurang nyaman dalam menuntut ilmu. Proses pendidikan yang baik adalah dengan memberikan kesempatan pada anak untuk kreatif. Itu harus dilakukan sebab pada dasarnya gaya berfikir anak tidak bisa diarahkan.

B.     RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dari makalah ini adalah:
a.       Bagaimana kualitas tenaga pendidik di indonesia ?
b.      Apa yang menyebabkan kualitas tenaga pendidik rendah ?
c.       Bagaimana solusi untuk mengatasi masalah rendahnya kualitas tenaga pendidik di Indonesia?



BAB II
PEMBAHASAN

1.      Kualitas Tenaga Pendidik Di Indonesia
Dalam dunia pendidikan guru menduduki posisi tertinggi dalam hal penyampaian informasi dan pengembangan karakter mengingat guru melakukan interaksi langsung dengan peserta didik dalam pembelajaran di ruang kelas. Disinilah kualitas pendidikan terbentuk dimana kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru ditentukan oleh kualitas guru yang bersangkutan.
Menurut Martinis Yamin (2007: 104) keberhasilan guru di dalam kelas bukan hanya sekedar tercapainya suatu tujuan belajar, akan tetapi keberhasilan guru juga ditentukan sejauh mana mampu mengembangkan kecakapan siswanya, karena guru sebagai change agent.Dalam kontek diatas untuk menjadi guru seperti yang dimaksud standar minimal yang harus dimiliki adalah :

1.      Memiliki kemampuan intelektual yang memadai
2.       Kemampuan memahami visi dan misi pendidikan
3.      Keahlian mentrasfer ilmu pengetahuan atau metodelogi pembelajaran
4.      Memahami konsep perkembangan anak/psikologi perkembangan
5.      Kemampuan mengorganisir dan problem solving
6.      Kreatif dan memiliki seni dalam mendidik.

Melihat peran tersebut, sudah menjadi kemutlakan bahwa guru harus memiliki integritas dan personaliti yang baik dan benar. Hal ini sangat mendasar, karena tugas guru bukan hanya mengajar (transfer knowledge) tetapi juga menanamkan nilai – nilai dasar dari bangun karakter atau akhlak anak. Di negeri ini sudah menjadi realitas umum guru bukan menjadi profesi yang berkelas baik secara sosial maupun ekonomi.



Fenomena yang ada di negara Indonesia sangat kurang respek dengan posisi guru. Negara yang kurang peduli dengan nasib guru. Kini lihatlah hasilnya. Apabila mengacu pada Human Index Development (HDI), Indonesia menjadi negara dengan kualias SDM yang memprihatinkan. Berdasarkan HDI tahun 2007, Indonesia berada diperingkat 107 dunia dari 177 negara. Bila dibandingkan dengan negara sekitar, tingkat HDI Indonesia jauh tertinggal.Contoh Malaysia berada diperingkat 63, Thailand 78, dan Singapura 25. Indonesia hanya lebih baik dari Papua Nugini dan Timor Leste yang berada diposisi 145 dan 150. HDI merupakan potret tahunan untuk melihat perkembangan manusia di suatu negara. HDI adalah kumpulan penilaian dari 3 kategori, yakni kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Menjadi jelaslah bahwa, sudah saatnya Indonesia menjadikan sektor pendidikan sebagai prioritas utama dalam program pembangunan. Apabilah hal ini tidak dibenahi, bukan hal mustahil daya saing dan kualitas manusia Indonesia akan lebih rendah dari negara yang baru saja merdeka seperti Vietnam atau Timor Leste. pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri.
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sbb: untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).





Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3).
Kendati secara kuantitas jumlah guru di Indonesia cukup memadai, namun secara kualitas mutu guru di negara ini, pada umumnya masih rendah. Secara umum, para guru di Indonesia kurang bisa memerankan fungsinya dengan optimal, karena pemerintah masih kurang memperhatikan mereka, khususnya dalam upaya meningkatkan profesionalismenya. Secara kuantitatif, sebenarnya jumlah guru di Indonesia relatif tidak terlalu buruk. Apabila dilihat ratio guru dengan siswa, angka-angkanya cukup bagus yakni di SD 1:22, SLTP 1:16, dan SMU/SMK 1:12. Meskipun demikian, dalam hal distribusi guru ternyata banyak mengandung kelemahan yakni pada satu sisi ada daerah atau sekolah yang kelebihan jumlah guru, dan di sisi lain ada daerah atau sekolah yang kekurangan guru. Dalam banyak kasus, ada SD yang jumlah gurunya hanya tiga hingga empat orang, sehingga mereka harus mengajar kelas secara paralel dan simultan.
Bila diukur dari persyaratan akademis, baik menyangkut pendidikan minimal maupun kesesuaian bidang studi dengan pelajaran yang harus diberikan kepada anak didik, ternyata banyak guru yang tidak memenuhi kualitas mengajar (under quality).Hal itu dapat dibuktikan dengan masih banyaknya guru yang belum sarjana, namun mengajar di SMU/SMK, serta banyak guru yang mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka miliki. Keadaan seperti ini menimpa lebih dari separoh guru di Indonesia, baik di SD, SLTP dan SMU/SMK. Artinya lebih dari 50 persen guru SD, SLTP dan SMU/SMK di Indonesia sebenarnya tidak memenuhi kelayakan mengajar. Dengan kondisi dan situasi seperti itu, diharapkan pendidikan yang berlangsung di sekolah harus secara seimbang dapat mencerdaskan kehidupan anak dan harus menanamkan budi pekerti kepada anak didik. “Sangat kurang tepat bila sekolah hanya mengembangkan kecerdasan anak didik, namun mengabaikan penanaman budi pekerti kepada para siswanya.

Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.

2.      Penyebab Rendahnya Kualitas Tenaga Pendidik Di Indonesia
Penyebab rendahnya kualitas guru Indonesia, yaitu grand desain pelatihan untuk guru yang tidak jelas dan pemerintah memang tidak peduli dengan pembangunan kualitas guru.
Namun, yang harus
dibenahi terlebih dahulu adalah kualitas tenaga pengajarnya. Sebab, kurikulum sebagus apapun, tapi jika kualitas gurunya tidak bagus, hasilnya juga akan percuma. Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Dengan pendapatan yang rendah, terang saja banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya.

3.      Solusi Untuk Mengatasi Masalah Rendahnya Kualitas Tenaga Pendidik Di Indonesia
Jika kurikulum diibaratkan sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan pendidikan, maka guru atau dosen adalah pengendaranya. Sebagai seorang “pengendara” seorang guru sudah tentu harus dapat mengemudikan “kendaraan” dengan baik. Dan untuk dapat mengemudikan dengan baik maka “pengendara” serta menghantarkan para ”penumpang” sesuai dengan tujuan mereka, “pengendara” tersebut haruslah memenuhi syarat kualitas sebagai seorang “pengendara”.
Peningkatan kualitas para tenaga para pengajar merupakan suatu keharusan. Peningkatan kualitas para siswa maupun mahasiswa tidak akan bisa berjalan dengan baik bahkan tidak akan mungkin tercapai jika usaha peningkatan kualitas tenaga pengajar, baik guru maupun dosen, diabaikan. Kita harus berlapang dada untuk menerima kenyataan bahwa kompetensi guru di negeri kita masih jauh dari yang diharapkan. Uji Kompetensi Guru (UKG) yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun lalu cukup memprihatinkan hasilnya. Dari 243.619 guru, rata- rata hanya mendapatkan nilai 44,5 (dari 100).

Dari sini tampak bahwa peningkatan kualitas guru merupakan suatu hal yang mutlak. Bagaimana murid bisa pintar jika gurunya tidak pintar. Jika seorang murid ingin mendapatkan nilai 80 namun kemampuan gurunya di bawah 70 tentu guru tidak akan dapat mencapai hal yang diinginkan murid bukan? Dan besar kemungkinan para murid akan lebih mendengarkan dan lebih mempercayai ajaran-ajaran yang mereka dapatkan dari luar sekolah (kursus misalnya).
Dalam pelaksanaan pendidikan, tenaga pengajar memiliki peran yang vital. Merekalah yang secara langsung berhubungan dengan murid. Mereka jugalah yang secara langsung menjalankan berbagai macam kebijakan-kebijakan pemerintah di lapangan (kelas). Seiring dengan cepatnya perkembangan zaman, maka para guru juga harus bisa berpacu dengan waktu. Sekarang merupakan zaman teknologi. Hampir semua pelajar memiliki akun facebookdan twitter. Untuk itu para guru tidak seharusnya buta teknologi. Mereka harus membiasakan hidup dengan teknologi sebagai wadah untuk mendapatkan informasi dan mengembangkan diri. Salah satu cara penting untuk meningkatkan kualitas tenaga pengajar ini adalah dengan memberikan pelatihan-pelatihan rutin yang mereka butuhkan. Dalam pelatihan-pelatihan ini mereka tidak hanya diberikan, misalnya, gambaran tentang materi-materi kurikulum yang baru, namun juga diberikan kesempatan untuk berbagi mengenai pengalaman mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai abdi negara untuk menghasilkan generasi yang berkualitas. Singkatnya, pelatihan dapat menghasilkan tenaga pengajar yang lebih baik.
Solusi lain menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan, di samping diberikan pelatihan untuk peningkatan kualitas, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan meningkatkan kesejahteraan guru.








ANALISIS TEORI

Rendahnya kualitas guru yang menjadi salah satu masalah pendidikan di Indonesia dapat dianalisis dengan menggunakan teori structural fungsional.

Asumsi teori : Masyarakat  merupakan sebuah sistem yang saling terhubung. Perubahan dalam satu elemen akan mempengaruhi elemen lainnya.

Randahnya kualitas tenaga pendidik akan membuat kreativitas dan inovasi siswa tidak terlalu tergali sehingga secara tidak langsung siswa tidak begitu aktif dan hal ini akan berdampak pada hasil belajar siswa yang menjadi cerminan mutu dari pendidikan itu sendiri. Singkatnya kualitas guru yang rendah akan menghasilkan peserta didik dengan produk mutu yang rendah pula. Sebagaimana yang kita lihat bahwa hubungan pendidikan dengan ekonomi terlihat sangat erat, yang mana jika mutu pendidikan rendah dan skill rendah maka sedikit banyaknya akan mempengaruhi kondisi ekonomi Negara, mutu pendidikan yang tinggi akan menciptakan tenaga kerja yang terampil sehingga akan meningkatkan pendapatan Negara dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat, berbeda dengan mutu pendidikan yang rendah, hal ini akan menghasilkan tenaga kerja yang asal jadi sehingga membuat mandeknya perekonomian dan akan menambah angka pengangguran serta meningkatkan kriminalitas di Indonesia. Hal ini semua bermula dari kualitas tenaga pendidik yang rendah.











BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Guru menduduki posisi tertinggi dalam hal penyampaian informasi dan pengembangan karakter mengingat guru melakukan interaksi langsung dengan peserta didik dalam pembelajaran di ruang kelas. Disinilah kualitas pendidikan terbentuk dimana kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru ditentukan oleh kualitas guru yang bersangkutan. Keadaan guru di Indonesia sangat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
Kendati secara kuantitas jumlah guru di Indonesia cukup memadai, namun secara kualitas mutu guru di negara ini, pada umumnya masih rendah. Secara umum, para guru di Indonesia kurang bisa memerankan fungsinya dengan optimal, karena pemerintah masih kurang memperhatikan mereka, khususnya dalam upaya meningkatkan profesionalismenya. Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru, tidak adanya penghargaan yang layak dan pemerintah kurang memperhatikan tingkat keprofesionalan dari guru sebagai tenaga pendidik serta ketidakjelasan dari program pelatihan guru yang dibuat oleh pemerintah.
Solusi menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan masalah pendidikan, di samping diberikan pelatihan untuk peningkatan kualitas, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan meningkatkan kesejahteraan guru.

Rabu, 10 April 2013

puisi


BAGIAN KISAH
Lukisan hatinya yang terpajang
Menjadi bagian julukan rebaknya kisah
merobohkan sukma rona jiwa
Mengkoyak rasa percaya
Membawa tangis bisu
Yang bernafas suka
Nyaris berbisa

Lesehan ingatan
menguak cerita lama
memberai episode episode bertema ‘mentahan’
Pecah dadaku dengan air mata biru
dan kembali ku jejaki masa lalu

bertahan dalam kegelisahan hatiku
Cerita ini tak lagi sama

23 maret 2013
07:42 WIB

RASAI
jika kamu rasa,
maka terasa
rasa rasa mu akan membuatmu asa
merasakan maka rasai,
terasa dan asa marasai dirimu,
asa asa akan terasa jika kamu merasai

jika kamu merasa
alang alang rasakan
merasai maka asa mu bengkok !!
... …… …….
jangan merasai
jangan beri rasa yang tak kamu tau,
asa asamu menjatuhkanmu sendiri
maka makan rasa mu,
rasai dan rasakan

putih akan tetap putih,
dan hitam tak akan berubah jadi biru !!

15 maret 2013
10: 14 WIB

KELABU
Tak ku temukan lagi raut rasa jujur
Dalam kerangka kisah yang mungkin akan lapuk,
Yang terukir dimasanya,
Rasanya tak kuat untuk bersimbiosis
Hanya karena warna tak merona lagi

Pahamnya aku,
Menghancurkan dinding yang bersorak
Maknanya aku,
Nyaris berbisa, Kelabu kutemukan
Orde Yng begitu hampar
Membaur dan menusuki
Hingga mataku tertangisi

Kuingin masa bertahan
Kuharapkan kabar ini berpelangi
Enyah mimpiku,
Harus kutinggalkan agar dimensiku tak hancur
Dan rumusku dikenang

__ widiya trisna __
[26/02/13 : 17:50]

[BELUM ADA JUDUL]
tawa yang pecah seakan terlihat renyah
mengiuk ngiuk aksara memori lama
mengulik sejarah yang tak akan mungkin terukir
hanya impian bala
yang sebenarnya merobek dasar rasa
dimana ini ?
apa ini ?
akan kah tanya terlontar ?

aungan hati begitu mengiba,
ingin ingin dan hanya angan
tak biasa kah kita ?

begitu banyak puing tanya yang ku punya,
amat besar impian yang kusimpan
namun tertutup kabut egois yang menjelma

#memang tak ada tempat utk mu

                                                                                   
20 november 2012
23 : 03 WIB


 LUKA
seleluasa kepingan kaca melayang
menerawang terbang menembus hati
tak terbaca namun terasakan
aksara  api tertelan bara
dan luka...

aksi pena dalam lipatan kertas
cermat lukiskan pantonim masa
beranjak dari bait ke halaman
titik dan koma pun beradu
Terangkailah kata bukan madu
entah apa yang tersirat
mengisak hati menahan luka

pandangi langit dalam tirai langkah
menoreh bait rindu
menepi kian jauh
dan akhirnya luka

23 juni 2012
20: 10 WIB

telaah kurikulum dan buku teks : model kurikulum


Model-Model Pengembangan Kurikulum 

Sebagai pelaku pendidik guru dituntut untuk mengetahui dan memahami tentang kurikulum, karena pemahaman guru tentang kurikulum merupakan salah satu unsur kompetensi pedagogik yang harus dimiliki oleh guru. Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang salah satu adalah kemampuan dalam pengembangan kurikulum. Pada tahun 2006 pemerintah menetapkan pemberlakuan tentang kurikulum baru yaitu dari KBK menjadi KTSP. Kurikulum ini merupakan inovasi baru dalam dunia pendidikan Indonesia, karena adanya KTSP guru dituntut kemampuannya dalam menyusun kurikulum sesuai dengan keadaan dan kebutuhan sekolah yang lebih dikenal dengan sistem Desentralisasi. Tetapi pada kenyataan dilapangan SDM guru kurang untuk menjabarkan KTSP, hal ini disebabkan karena masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik konsep, penyusunan maupun praktek dilapangan. Padahal dalam KTSP guru dituntut dapat mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan yang ada, oleh karena itu guru harus memahami terlebih dahulu konsep-konsep kurikulum terutama dalam pengembangan model-model kurikulum karena model-model pengembangan kurikulum memegang peranan penting dalam kegiatan pengembangan kurikulum.
Atas dasar diatas maka makalah ini membahas tentang beberapa model pengembangan kurikulum sebagai sumbangan pemikiran pengetahuan dalam proses mengembangkan kurikulum, khususnya bagi yang berkepentingan dalam mendalami model-model tersebut.

 Pengertian Model Pengembangan Kurikulum
Menurut Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan kurikulum bisa berarti penyusunan kurikulum yang sama sekali baru (curriculum construction) bisa juga menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curriculum improvement). Sedangkan Model menurut Good dan Travers adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainnya. Rivett (1972) menyatakan bahwa model adalah hubungan sebuah logika secara, salah satunya kualitatif atau kuantitatif, yang memberikan relevansi pada masa mendatang. Jadi dapat disimpulkan bahwa Pengembangan Model Kurikulum adalah suatu sistem dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang dalam penyusunan kurikulum yang baru ataupun penyempurnaan kurikulum yang telah ada yang memberikan relevansi pada masa mendatang. Nadler mengatakan bahwa model yang baik adalah model yang dapat menolong sipenggguna untuk mengerti dan memahami suatu proses yang mendasar dan menyeluruh.


Model-Model Pengembangan Kurikulum
Berdasarkan perkembangan para ahli kurikulum, dewasa ini telah banyak menyajikan model-model pengembangan kurikulum. Dimana setiap model memiliki kekhasan tertentu baik dilihat dari keluasan pengembangan kurikulumnya itu sendiri maupun dilihat dari tahapan pengembangannya sesuai dengan pendekatannya. Dalam makalah ini hanya beberapa model yang disajikan, dan guru dapat mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan. Model-model pengembangan kurikulum dari berbagai pendapat antara lain adalah:

1. Model Oliva
Menurut Oliva suatu model kurikulum haruslah simpel, komprehensif dan sistematik. Meskipun model ini menggambarkan beberapa proses yang berasumsi pada model sederhana tetapi model ini terdiri dari duabelas komponen yang saling terkait satu dengan yang lain. Keduabelas komponen ini menggambarkan langkah-langkah pengembangan kurikulum yang komprehensif. Model ini terdiri dari tiga tahap yaitu pada komponen I-IV dan VI-IX adalah tahap perencanaan, komponen V adalah tahap perencanaan dan operasional, dan kompenen X-XII adalah tahap operasional. Wina Sanjaya meringkaskan model ini seperti pada gambar:
2. Model Murray Print
Menurut Murray Print ada dua bentuk dasar dalam model pengembangan kurikulum yaitu rasional dan dinamis. Model yang rasional biasanya berbentuk urutan yang kaku dan tidak berubah dalam menjelaskan proses kurikulum yang dimulai dari tujuan, isi, metode dan evaluasi. Sedangkan yang dinamis lebih melihat proses kurikulum sebagai sesuatu yang fleksibel, interaktif dan dapat dimodifikasi. Model ini terdiri dari tiga tahap yaitu pengorganisasian, perkembangan dan aplikasi. Seperti pada gambar:

3. Model Tyler
Menurut Tyler ada 4 hal yang dianggap fundamental untuk pengembangan kurikulum yaitu: pertama berhubungan dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai, kedua berhubungan dengan pengalaman belajar, ketiga pengorganisasian pengalaman belajar, keempat berhubungan dengan evaluasi. Model ini digambarkan sebagai berikut:
4. Model Beauchamp’s
Model ini lebih dikenal dengan sistem Beauchamp’s, karena memang diciptakan dan dikembangkan oleh Beauchamp yang seorang ahli kurikulum. Dalam model ini dikemukakan lima tahap dalam pengembangan kurikulum, yaitu menetapkan arena atau lingkup wilayah yang akan melakukan perubahan kurikulum, menetapkan personalia yang terlibat dalam pengembangan kurikulum dan hal ini disarankan oleh Beauchamp agar melibatkan seluas-luasnya para tokoh dimasyarakat, organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum, implementasi kurikulum, dan evaluasi kurikulum.

5. Model Wheeler
Model pengembangan kurikulum ini bentuknya melingkar, dan proses pengembangannnya terjadi secara terus menerus. Dalam model ini terdapat lima tahap dimana setiap tahapnya merupakan lanjutan dari tahap sebelumnya. Jadi jika tahap pertama belum selesai maka tahap kedua tak dapat dilakukan, begitu juga seterusnya. Tetapi jika semua tahap telah selesai dikerjakan maka akan kembali lagi ketahap awal, sehingga model pengembangan ini membentuk siklus. Jadi komponen-komponen pengembangannya saling bergantung satu dengan yang lain. Model ini dimulai dengan tahap menentukan tujuan umum dan khusus, menentukan pengalaman belajar yang dapat dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan yang dirumuskan dalam langkah pertama, menentukan isi atau materi pembelajaran sesuai dengan pengalaman belajar, mengorganisasikan atau menyatukan pengalaman belajar dengan isi atau metri belajar, melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan. Hal ini dapat digambar seperti:

6. Model Nicholls
Howard Nicholls menjelaskan bahwa pendekatan pengembangan kurikulum terdiri atas elemen-elemen kurikulum yang berbentuk siklus dan model ini menggunakan pendektan seperti model Wheeler. Model ini digunakan apabila ingin menyusun kurikulum baru yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan situasi. Ada lima langkah dalam pengembangan model ini yaitu: analisis situasi, menentukan tujuan khusus, menentukan dan mengorganisasikan isi pelajaran, menentukan dan mengorganisasikan metode, dan evaluasi
.
7. Model Dinamik
Model ini dikembangkan oleh Walker dan Skilbeck, model ini tidak mengikuti pola urutan (sequence) tertentu. Model Dinamik adalah model pengembangan kurikulum pada level sekolah. Menurut Walker ada tiga tahap dalam model ini yaitu pernyataan flatform melalui gagasan, preferensi, sudut pandang, keyakinan dan nilai; Deliberasi atau pertimbangan mendalam, yang merupakan sekumpulan interaksi kompleks dan acak yang pada akhirnya mencapai suatu jumlah karya latar belakang sebelum kurikulum didesain, pengembang kurikulum mengambil keputusan-keputusan mengenai berbagai komponen proses (unsur kurikulum). Sedangkan menurut Skilbeck model dinamik ini diperuntukkan untuk guru yang ingin mengembangkan kurikulum, untuk itu guru perlu mengetahui lima tahapan dalam model ini, yaitu menganalisis situasi, memformulasikan tujuan, menyusun program, interpreatasi dan implementasi, dan monitoring, feedback, penilaian dan rekonstruksi. Seperti pada gambar:
8. Model Electik Zais
Model ini dikembangkan oleh Robert S.Zais, yang terdiri dari komponen kurikulum dan landasan kurikulum yang cukup kuat mempengaruhi hakekat dan desain kurikulum. Landasan ini berhubungan dengan perencanaan yang dibutuhkan dalam mempertimbangkan pengembangan kurikulum. Model elektik Zais digambarkan seperti:

9. Model Taba
Berbeda dengan yang dikembangkan oleh Tyler, model ini lebih menitikberatkan kepada bagaimana mengembangkan kurikulum sebagai suatu proses perbaikan dan penyempurnaan. Model ini bersifat induktif yang merupakan inversi atau arah balik dari model tradisional, sehingga model ini dapat mendorong inovasi dan kreativitas guru-guru. Dalam model ini terdapat lima langkah yang merupakan model pengembangan kurikulum terbalik, yaitu:
a. Menghasilkan unit-unit percobaan (pilot unit) melalui langkah-langkah: mendiagnosa kebutuhan, memformulasikan kebutuhan, memilih isi, mengorganisasi isi, memilih pengalaman belajar, mengorganisasi pengalaman belajar, menentukan alat evaluasi serta prosedur yang harus dilakukan siswa.
b. Menguji coba unit eksperimen untuk memperoleh data dalam rangka menemukan validitas dan kelayakan penggunaannya.
c. Merevisi dan mengonsolidasikan unit-unit eksperimen berdasarkan data yang diperoleh dalam uji coba.
d. Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum.
e. Implementasi dan diseminasi kurikulum yang telah teruji
.
. Fungsi Model Pengembangan Kurikulum Bagi Guru
Menurut pendapat Oemar Hamalik Pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa ke arah peubahan-perubahan yang diinginkan dan menilai hingga mana perubahan-perubahan itu telah terjadi pada diri siswa. Sedangkan kesempatan belajar yang dimaksud adalah hubungan yang telah direncanakan dan terkontrol antara para siswa, guru, bahan peralatan, dan lingkungan dimana belajar yang diinginkan diharapkan terjadi. Ini terjadi bahwa semua kesempatan belajar direncanakan oleh guru, bagi para siswa sesungguhnya adalah ”kurikulum itu sendiri”. Oleh karena itu dalam memahami pengembangan kurikulum dengan lebih baik lagi guru dapat terlebih dahulu mempelajari model-model pengembangan kurikulum agar lebih mudah mempelajari bagaimana cara mengembangkan kurikulum tersebut. Menurut Nadler model yang baik adalah model yang dapat menolong sipengguna untuk mengerti dan memahami suatu proses secara mendasar dan menyuluruh. Hal ini berarti model pengembangan kurikulum yang baik adalah model yang dapat membantu para pengembang kurikulum dalam mengembangkan kurikulum dilapangan. Berkenaan dengan model-model pengembangan kurikulum, maka fungsi model pengembangan kurikulum bagi guru adalah:
1. Sebagai pedoman bagi guru untuk memilih model pengembangan yang sesuai dengan pelaksanaan pengembangan kurikulum di lapangan.
2. Sebagai bahan pengetahuan untuk melihat lahirnya bagaimana sebuah kurikulum tercipta dari mulai perencanaan sampai pelaksanaan di lapangan, yang mungkin selama ini guru hanya mengetahui bahwa kurikulum itu sebagai sesuatu yang siap saji., padahal melalui proses yang panjang sesuai dengan model mana yang dipilih oleh pengembang kurikulum atau pengambil kebijaksanaan.
3. Sebagai bahan untuk menyusun kurikulum yang sesuai dengan visi, misi, karakteristik, dan sesuai dengan pengalaman belajar yang diharapkan atau dibutuhkan oleh siswa.
4. Sebagai bahan untuk mengadakan penelitian yang merupakan bagian tugas profesional guru yang memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan kinerjanya sebagai guru.
5. Sebagai bahan untuk melihat perbandingan dan keberhasilan tentang model pengembangaan kurikulum yang digunakan suatu sekolah, yang nantinya diharapkan untuk memperbaiki kurikulum yang dilaksanakan