Daftar Blog Saya

Minggu, 26 Mei 2013

semester 2 TUGAS TPPI


PERAN MAHASISWA TERHADAP PENGEMBANGAN DAN
PELESTARIAN  BUDAYA DAERAH
Oleh : Widiya Trisna/ 1101817

 ABSTRAK
Kebudayaan menempati posisi sentral dalam seluruh tatanan hidup manusia. Kebudayaanlah yang memberi nilai dan makna. Kebudayaan dalam lingkup regional tertentu disebut dengan budaya daerah,. Perubahan pola budaya daerah yang ditimbulkan oleh modernisasi membuat kita harus mempertahankan kebudayaan asli daerah karena merupakan warisan dari leluhur dan dianggap masih berguna serta relevan dengan kehidupan. Peran untuk mempertahankan dan melestarikan  budaya daerah tidak terlepas dari andil mahasiswa dan masyarakat lainnya, peran mahasiswa dapat diwujudkan dengan jalur ekstrakulikuler dan intrakulikuler. Dengan demikian mahasiswa mengetahui kebudayaan daerah masing- masing, sehingga terciptalah aktor bangsa yang kaya wawasan budaya lokal.

Kata Kunci : Kebudayaan, budaya daerah, mahasiswa, peran, pelestarian.

A.    PENDAHULUAN
Kebudayaan atau budaya berasal dari kata sanskerta buddayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Menurut bapak Antropologi Indonesia, Koenjtaraningrat mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan milik diri manusia dengan belajar. Sedangkan menurut E.B Taylor budaya adalah keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.[1]
Istilah budaya daerah biasanya digunakan untuk membedakan suatu budaya dari budaya nasional (Indonesia) dan budaya global. Budaya daerah adalah budaya yang dimiliki oleh masyarakat yang menempati lokalitas atau daerah tertentu yang berbeda dari budaya yang dimiliki oleh masyarakat yang berada di tempat yang lain. Di Indonesia istilah budaya daerah juga sering disepadankan dengan budaya lokal atau budaya etnik/ subetnik.
 Kebudayaan daerah (lokal) Indonesia yang sangat beranekaragam menjadi suatu kebanggaan sekaligus tantangan untuk mempertahankan serta mewarisi kepada generasi selanjutnya. Budaya daerah Indonesia sangat membanggakan karena memiliki keanekaragaman yang sangat bervariasi serta memiliki keunikan tersendiri. Terdapat 746 jumlah bahasa daerah, lebih dari 100 jenis tarian daerah dan 28 alat musik daerah.[2] Masih banyak lagi kebudayaan kebudayaan lainnya.Namun seiring berkembangnya zaman, menimbulkan perubahan pola hidup masyakat yang lebih modern. Akibatnya, masyarakat lebih memilih kebudayaan baru yang mungkin dinilai lebih praktis dibandingkan dengan budaya daerah.
Banyak faktor yang menyebabkan budaya daerah dilupakan dimasa sekarang ini, misalnya masuknya budaya asing. Masuknya budaya asing ke suatu negara sebenarnya merupakan hal yang wajar, asalkan budaya tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa. Namun pada kenyataannya budaya asing mulai mendominasi sehingga budaya daerah mulai dilupakan. Faktor lain yang menjadi masalah adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya peranan budaya daerah. Budaya daerah adalah identitas bangsa. Sebagai identitas bangsa, budaya daerah harus terus dijaga keaslian maupun kepemilikannya agar tidak dapat diakui oleh negara lain. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan budaya asing masuk asalkan sesuai dengan kepribadian negara karena suatu negara juga membutuhkan input-input dari negara lain yang akan berpengaruh terhadap perkembangan di negaranya.
Perkembangan suatu negara tentu tidak luput dari wajah dan apresiasi mahasiswa. Mahasiswa sebagai “agen sosial of change” mempunyai tanggung jawab moral terhadap apa yang terjadi pada tanah airnya. Oleh karena itu, dalam stratifikasi sosial mahasiswa di tempatkan dalam golongan middle class yang notabene adalah penyambung lidah masyarakat. Mahasiswa mengemban tugas dalam mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah yang mungkin saja tidak sesuai dengan kondisi masyarakat pada umumnya di Indonesia. Namun tidak hanya itu tugas yang harus diemban oleh mahasiswa. Mahasiswa tidak hanya berbicara dalam tataran akademis. Tapi juga berbicara tentang bagaimana mengontrol permasalahan-permasalahan sosial. Termasuk dalam masalah melestarikan produk-produk kebudayaan yang begitu kaya dimiliki bangsa ini. Dimana seperti yang kita ketahui di media massa akhir-akhir ini tanpa disadari kebudayaan kita telah “dirampok” oleh negara tetangga Malaysia. Beberapa kepunyaan Indonesia dari batik, pulau, tari-tarian khas daerah, lagu daerah, sampai makanan pun dengan tanpa malu negara tetangga kita itu mengklaim bahwa itu adalah kebudayaan mereka. Ini merupakan suatu tamparan bagi bangsa kita untuk lebih menjaga dengan cara melestarikan kebudayaan kita
Mahasiswa memiliki kedudukan dan peranan penting dalam pelestarian budaya daerah. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa mahasiswa merupakan anak bangsa yang menjadi penerus kelangsungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia. Sebagai intelektual muda yang kelak menjadi pemimpin-pemimpin bangsa, mahasiswa harus mempunyai suatu kesadaran kultural sehingga keberlanjutan negara bangsa Indonesia dapat dipertahankan. Pembentukan kesadaran kultural mahasiswa antara lain dapat dilakukan dengan pengoptimalan peran mereka dalam pelestarian seni dan budaya daerah.
Jadi rumusan masalah yang dapat diambil dari pembahasan diatas adalah apa yang dimaksud dengan budaya dan budaya daerah ? Bagaimana peran mahasiswa terhadap pengembangan dan pelestarian budaya daerah ? Bagaimana peran lembaga kebudayaan dalam pelestarian budaya daerah ?

B.     PEMBAHASAN
       I.            Konsep Budaya
Kebudayaan menempati posisi sentral dalam seluruh tatanan hidup manusia. Tak ada manusia yang dapat hidup diluar lingkup kebudayaan. Kebudayaanlah yang memberi nilai dan makna pada hidup manusia. Seluruh bangunan hidup manusia dan masyarakat berdiri diatas landasan kebudayaan.  Karena itu penting sekali artinya bagi kita untuk memahami hakikiat kebudayaan.

Budaya (sering juga disebut kebudayaan) adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.[3] J.J. Honigmann dalam The World of Man (1959) membedakan adanya tiga gejala kebudayaan, yaitu ideas, activities, dan artifacts.
Sejalan dengan hal tersebut Koentjaraningrat mengemukakan bahwa kebudayaan dapat digolongkan dalam tiga wujud. Pertama, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan. Wujud pertama merupakan wujud ideal dari kebudayaan yang bersifat abstrak (tidak dapat diraba, dipegang, atau difoto), berada di alam pikiran warga masyarakat di mana kebudayaan yang bersangkutan hidup. Kebudayaan ideal ini disebut pula tata kelakukan yang berfungsi mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tindakan, kelakuan, dan perbuatan manusia dalam masyarakat.
Para ahli antropologi dan sosiologi menyebut wujud ideal dari kebudayaan ini dengan  cultural system (sistem budaya) yang dalam bahasa Indonesia  dikenal dengan istilah adat  atau adat istiadat (dalam bentuk jamak). Kedua, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud kebudayaan tersebut dinamakan sistem sosial (social system). Wujud kebudayaan ini dapat diobservasi, difoto, dan didokumentasi karena dalam sistem sosial ini terdapat aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi satu dengan yang lain. Sistem sosial merupakan perwujudan kebudayaan yang bersifat konkret dalam bentuk perilaku dan bahasa. Ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia; bersifat paling konkret dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat dilihat, diraba, dan difoto. Wujud kebudayaan yang ketiga ini disebut kebudayaan fisik (material culture).
Ketiga wujud kebudayaan dalam realitas kehidupan masyarakat tentu tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan dan karya manusia. Ide-ide dan tindakan menghasilkan benda-benda yang merupakan kebudayaan fisik. Sebaliknya kebudayaan fisik membentuk lingkungan hidup tertentu yang dapat mempengaruhi tindakan dan cara berpikir masyarakat.[4]
Kebudayaan atau budaya berasal dari kata sanskerta buddayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berartibudi atau akal. Kebudayaan dapat diartikan sebagai hal yang bersangkutan dengan budi atau akal.[5] Menurut bapak Antropologi Indonesia, Koenjtaraningrat mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan milik diri manusia dengan belajar. Sedangkan menurut E.B Taylor budaya adalah keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.[6]
Pendapat lain mengatakan bahwa kebudayaan merupakan endapan dari kegiatan dan karya manusia.[7] Secara universal unsur- unsur kebudayaan terdiri dari kepercayaan, nilai, norma dan sanksi, simbol, teknologi, bahasa dan kesenian.[8]

    II.            Konsep Budaya Daerah
Budaya daerah merupakan istilah yang biasanya digunakan untuk membedakan suatu budaya dari budaya nasional (Indonesia) dan budaya global. Budaya daerah adalah budaya yang dimiliki oleh masyarakat yang menempati lokalitas atau daerah tertentu yang berbeda dari budaya yang dimiliki oleh masyarakat yang berada di tempat yang lain. Di Indonesia istilah budaya daerah juga sering disepadankan dengan budaya lokal atau budaya etnik/ subetnik. Setiap bangsa, etnik, dan sub etnik memiliki kebudayaan yang mencakup tujuh unsur, yaitu:  bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian.[9] Namun demikian, sifat-sifat khas kebudayaan hanya dapat dimanifestasikan dalam unsur-unsur terbatas,  terutama melalui bahasa, kesenian, dan upacara. Unsur-unsur yang lain sulit untuk menonjolkan sifat-sifat khas kebudayaan suatu bangsa atau suku bangsa.

 III.            Peran Mahasiswa terhadap pengembangan dan pelestarian budaya daerah
Apa yang dinyatakan sebagai mutu kehidupan bangsa tidak layak diukur oleh tingkat kemakmuran material belaka, mutu kehidupan akan meningkat oleh kekayaan wawasan kultural. Kekayaan inilah yang selanjutnya akan menumbuhkan kesadaran identitas kita sebagai bangsa, selanjutnya wawasan kultural harus digarap dengan canggih, maka dengan itu makin teguh ketahanan kita untuk menghadapi kegoyahan nilai dan sengketa norma oleh manca budaya.[10] Hal inilah yang pertama sekali dilakukan oleh mahasiswa yakni menambah wawasan kultural selaku aktor untuk perubahan negeri ini.
Sebagai aktor bangsa, peran mahasiswa dalam mengawal kebudayaan daerah Indonesia, pertama, mahasiswa sebagai kaum akademis mempunyai peranan bagaimana memfilter kebudayaan-kebudayaan asing yang masuk kedalam masyarakat Indonesia terutama kaum muda yang dalam kenyataannya lebih cepat dapat terpengaruh oleh kebudayaan-kebudayaan asing yang masuk kedalam gaya hidupnya. Kedua, mendesak pemerintah untuk lebih koorperatif terhadap budayawan-budayawan yang mana mereka lebih akrab dengan hal tersebut. Itu bertujuan agar pemerintah sebagai pemegang kebijakan agar lebih teliti dalam mengaja kebudayaan-kebudayaan Indonesia dengan lebih memerhatikannya dan tidak bertindak pasif. Baik itu dengan membuat dokumentasi budaya-budaya Indonesia, maupun undang-undang yang tegas mengatur permasalahan tersebut. Ketiga, melakukan sosialisasi akan pentingnya menjaga kebudayaan yang merupakan harta bagi bangsa ini. Maka disini perlu adanya kerjasama dengan media massa.
Peranan mahasiswa dalam mengawal kebudayaan daerah ini tentunya tidak akan berhasil tanpa adanya kesadaran pada masyarakat pada umumnya. Padahal,  kebudayaan yang dimiliki Indonesia ialah sebagai identitas bagi masyarakat Indonesia. Siapa lagi yang melestarikan kebudayaan Indonesia jika bukan oleh warga Negara itu sendiri. Oleh karena itu mari kita sebagai anak bangsa mempunyai tanggung jawab moral untuk menjaga “harta” ini dengan cara melestarikannya.
Optimalisasi peran mahasiswa dalam pelestarian budaya daerah dapat juga dilakukan melalui dua jalur, yaitu intrakurikuler dan ekstrakulikuler. Jalur Intrakurikuler dilakukan dengan menjadikan budaya daerah sebagai substansi mata kuliah; sedangkan jalur ekstrakurikuler dapat dilakukan melalui pemanfaatan unit kegiatan mahasiswa (UKM) kesenian dan keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan seni dan budaya yang diselenggarakan oleh berbagai pihak untuk pelestarian budaya daerah.

a.       Jalur Intrakurikuler
Untuk mengoptimalkan peran mahasiswa dalam pelestarian budaya daerah diperlukan adanya pemahaman mahasiswa terhadap seni dan budaya daerah. Tanpa adanya pemahaman yang baik terhadap hal itu, mustahil mahasiswa dapat menjalankan peran itu dengan baik. 
Peningkatan pemahaman mahasiswa terhadap budaya daerah dapat dilakukan melalui jalur intrakurikuler; artinya budaya daerah dijadikan sebagai salah satu substansi atau materi pembelajaran dalam satu mata kuliah atau dijadikan sebagai mata kuliah. Kemungkinan yang pertama dapat dilakukan melalui mata kuliah  Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD) bagi mahasiswa program studi eksakta, dan Ilmu Budaya Dasar dan Antropologi Budaya bagi mahasiswa program studi ilmu sosial. Dalam dua mata kuliah itu terdapat beberapa pokok bahasan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap seni dan budaya daerah yaitu tentang manusia dan kebudayaan, manusia dan peradaban, dan manusia, sains teknologi, dan seni. Kemungkinan yang kedua tampaknya telah diakomodasi dalam kurikulum program studi-program studi yang termasuk dalam rumpun ilmu budaya seperti program studi di lingkungan Fakultas Sastra atau Fakultas Ilmu Budaya.
Beberapa mata kuliah yang secara khusus dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman terhadap budaya daerah adalah Masyarakat dan Kesenian Indonesia, Manusia dan Kebudayaan Indonesia, dan Masyarakat dan Kebudayaan Pesisir. Melalui mata kuliah-mata kuliah itu, mahasiswa dapat diberi penugasan untuk melihat, memahami, mengapresiasi, mendokumentasi, dan membahas seni dan budaya daerah. Dengan kegiatan-kegiatan semacam itu pemahaman mahasiswa terhadap seni dan budaya daearah akan meningkat yang juga telah melakukan pelestarian.[11] 
Jalur intrakurikuler lainnya yang dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman bahkan mengoptimalkan peran mahasiswa dalam pelestarian budaya daerah adalah Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa-mahasiswa yang telah mendapatkan pemahaman yang mencukupi terhadap budaya daerah dapat berkiprah langsung dalam pelestarian dan pengembangan budaya daerah.

b.      Jalur Ekstrakurikuler
Pembentukan dan pemanfaatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) kesenian merupakan langkah lain yang dapat ditempuh untuk mengoptimalkan peran mahasiswa dalam pelestarian seni dan budaya daerah. Sehubungan dengan hal itu, pimpinan perguruan tinggi perlu mendorong pembentukan UKM kesenian daerah.
Lembaga kemahasiswaan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) merupakan wahana yang sangat strategis untuk upaya-upaya tersebut, karena mereka adalah mahasiswa yang benar-benar berminat dan berbakat dalam bidang seni tradisi. Latihan-latihan secara rutin sebagai salah satu bentuk kegiatan UKM kesenian daerah yang pada gilirannya akan berujung pada pementasan atau pergelaran merupakan bentuk nyata dari pelestarian seni dan budaya daerah. Forum-forum festival seni mahasiswa semacam Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional (Peksiminas) merupakan wahana yang lain untuk pengoptimalan peran mahasiswa dalam pelestarian seni dan budaya daerah.
 IV.            Peran lembaga kebudayaan dalam pelestarian budaya daerah
Lembaga-lembaga kebudayaan baik yang berbentuk lembaga swadaya masyarakat (LSM), sanggar, atau paguyuban merupakan elemen lain yang dapat berperan serta dalam pelestarian seni dan budaya daerah. Sejauh ini lembaga kebudayaan dipandang sebagai elemen masyarakat yang relatif memiliki perhatian dan kepedulian terhadap eksistensi dan kelangsungan seni dan budaya daerah.  
Optimalisasi peran lembaga kebudayaan memerlukan dukungan pemerintah. Pembentukan dewan kesenian merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalisasikan peran lembaga kebudayaan. Dewan kesenian dapat merencanakan sejumlah kegiatan antara lain dapat berupa penyuluhan, pembinaan, dan pelatihan bagi lembaga-lembaga kebudayaan yang bertujuan untuk memberikan arah dalam pengembangan seni dan budaya daerah.
Pemerintah berkewajiban untuk mendorong peran serta lembaga kebudayaan melalui pemberian ruang ekspresi yang cukup dalam bentuk penyediaan gedung-gedung kesenian yang dapat diakses dan dimanfaatkan oleh para seniman untuk berekspresi. Memang, pemerintah telah menyediakan ruang ekspresi itu, namun sering kali para seniman tidak mampu menjangkau sewa gedung yang mahal menurut ukuran seniman (tradisi).
Penyediaan fasilitas gratis bagi seniman yang akan menyelenggarakan pergelaran merupakan kebijakan yang ditunggu-tunggu oleh kalangan seniman tradisi. Selain itu, pemerintah juga perlu memberikan insentif atau apa pun namanya kepada lembaga kebudayaan yang memiliki komitmen, konsisten, dan secara kontinyu melakukan kegiatan-kegiatan pelestarian seni dan budaya daerah.[12]
Langkah lain yang bisa dilakukan untuk melestarikn budaya adalah melakukan penerbitan buku- buku atau bacaan hasil budaya kemudiaan disebarluaskan kepada masyarakat. Setelah itu pembangunan nasional perlu bertitik-tolak dari upaya-upaya  pengem­bangan kesenian yang mampu melahirkan “nilai-tambah kultural”. Pakem-pakem seni (lokal dan nasional) perlu tetap dilanggengkan, karena berakar dalam budaya masyarakat. Melalui dekomposisi dan rekonstruksi, rekoreografi, renovasi, revitalisasi, refung­sionalisasi, disertai improvisasi dengan aneka hiasan, sentuhan-sentuhan nilai-nilai dan nafas baru, akan mengundang apresiasi dan menumbuhkan sikap posesif terhadap pembaharuan dan pengayaan karya-karya seni.  Di sinilah awal dari kesenian menjadi kekayaan budaya dan hal ini sudah termasuk dalam pelestarian budaya.[13]

C.    PENUTUP
Istilah budaya daerah biasanya digunakan untuk membedakan suatu budaya dari budaya nasional (Indonesia) dan budaya global. Budaya daerah adalah budaya yang dimiliki oleh masyarakat yang menempati lokalitas atau daerah tertentu yang berbeda dari budaya yang dimiliki oleh masyarakat yang berada di tempat yang lain. Di Indonesia istilah budaya daerah juga sering disepadankan dengan budaya lokal atau budaya etnik/ subetnik. Budaya daerah Indonesia  memiliki keanekaragaman yang sangat bervariasi serta memiliki keunikan tersendiri. Terdapat 746 jumlah bahasa daerah, lebih dari 100 jenis tarian daerah dan 28 alat musik daerah. Masih banyak lagi kebudayaan kebudayaan lainnya. Namun seiring berkembangnya zaman, menimbulkan perubahan pola hidup masyakat yang lebih modern. Akibatnya, masyarakat lebih memilih kebudayaan baru yang mungkin dinilai lebih praktis dibandingkan dengan budaya daerah.
Perkembangan suatu negara tentu tidak luput dari wajah dan apresiasi mahasiswa. Mahasiswa sebagai “agen sosial of change” mempunyai tanggung jawab moral terhadap apa yang terjadi pada tanah airnya. Oleh karena itu, dalam stratifikasi sosial mahasiswa di tempatkan dalam golongan middle class yang notabene adalah penyambung lidah masyarakat. Mahasiswa mengemban tugas dalam mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah yang mungkin saja tidak sesuai dengan kondisi masyarakat pada umumnya di Indonesia.
Optimalisasi peran mahasiswa dalam pelestarian budaya daerah dapat juga dilakukan melalui dua jalur, yaitu intrakurikuler dan ekstrakulikuler. Jalur Intrakurikuler dilakukan dengan menjadikan budaya daerah sebagai substansi mata kuliah; sedangkan jalur ekstrakurikuler dapat dilakukan melalui pemanfaatan unit kegiatan mahasiswa (UKM) kesenian dan keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan seni dan budaya yang diselenggarakan oleh berbagai pihak untuk pelestarian budaya daerah. Untuk pencapaian yang optimal diperlukan juga partisipasi dari masyarakat dan perana lembaga- lembaga kebudayaan baik yang berbentuk lembaga swadaya masyarakat (LSM), sanggar, atau paguyuban. Lembaga ini merupakan elemen lain jyang dapat berperan serta dalam pelestarian seni dan budaya daerah. Sejauh ini lembaga kebudayaan dipandang sebagai elemen masyarakat yang relative memiliki perhatian dan kepedulian terhadap eksistensi serta kelangsungan seni dan budaya daerah.
DAFTAR PUSTAKA
Blues, Agus. (2011) Planet Wanita [Internet], April. Tersedia dalam:   http://planetwanita.com [Diakses 3 Maret 2012]
Dhanang. (2009) Peningkatan Kualitas Pembelajaran [Internet], Juli. Tersedia dalam: http://staff.undip.ac.id [Diakses 3 Maret 2012].
Handayani, Kuntari. (2011) Optimalisasi Peran Mahasiswa [Internet], April. Tersedia dalam: http://th4r1e.blogspot.com [Diakses 29 Februari 2012].
Hasan, Fuad. 1989. Renungan Budaya. Jakarta: Balai Pustaka.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Lutfiah, Siti. (2011) Pergeseran Bahasa Daerah dalam Komunikasi Lintas Budaya [ Internet], Desember. Tersedia dalam: http://kebulan09.com [Diakses 29 Februari 2012]
Moral, Rafael Raga. 2007. Manusia dan Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.
Peursen, Van. 1976. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius
Setiadi, dkk. 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Soerjono, Soekanto. 2003. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
.




 
 


[1] Setiadi, dkk. 2006. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup. Hal 27
[2] Blues, Agus. (2011) Planet Wanita [internet], April. Tersedia dalam http://planetwanita.com
[3] Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. Hal 144
[4] Handayani, Kuntari. (2011) Optimalisasi Peran Mahasiswa [Internet], April. Tersedia dalam: http://th4r1e.blogspot.com
[5] Soekanto, Soerjono. 2003. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.
[6] Setiadi. Op.cit
[7] Peursen, Van. 1976. Stategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius. Hal 9.
[8] Moran, Rafael Raga. 2007. Manusia Dan Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta. Hal 38-46.
[9] Koenjtaraningrat. Op.cit hal 165
[10] Hasan, Fuad. 1989. Renungan Budaya. Jakarta: Balai Pustaka. Hal 26- 27.
[11] Lutfiah, Siti. (2011) Pergeseran Bahasa Daerah dalam Komunikasi Lintas Budaya [Internet], Desember. Tersedia dalam: http://kebulan09.com
[12] Handayani . Loc.cit
[13] Dhanang. (2009) Peningkatan Kualitas Pembelajaran [Internet], Juli. Tersedia dalam http://staff.undip.ac.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar